Suami Terlantarkan Istri dan 11 Anak : Kisah Perjuangan Ibu yang Tak Pernah Menyerah

Redaksi
8 Jun 2026 15:13
InfoNias 0 360
6 menit membaca

Suami Terlantarkan Istri dan 11 Anak : Kisah Perjuangan Ibu yang Tak Pernah Menyerah

 

Sumber : Ketua BPD Desa Hilinaa & Ina Jefri Zebua

Foto : Ina Jefri Zebua

Penulis: Notatema Lase

 

 

Gunungsitoli, Matakeadilan.id //

Menindaklanjuti kunjungan dan penyerahan bantuan tali asih yang dilakukan Komunitas Peduli Sahabat Kota Gunungsitoli kepada keluarga Ina Jefri Zebua pada Jumat (05/06/2026), awak media melakukan konfirmasi langsung ke pihak desa untuk memastikan seluruh fakta yang ada.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Hilinaa, Ama Ika Zebua, membenarkan seluruh riwayat usulan bantuan serta kondisi nyata keluarga tersebut saat dihubungi awak media pada Minggu (07/06/2026).

Menurut penuturannya, Ina Jefri Zebua tercatat resmi berdomisili di wilayah Desa Hilinaa. Ia menegaskan, Pemerintah Kota Gunungsitoli pernah secara resmi menawarkan bantuan pembangunan Rumah Layak Huni bagi keluarganya, namun rencana tersebut belum dapat direalisasikan pada masa itu karena terkendala satu hal utama yaitu keluarga tersebut belum memiliki lahan milik sendiri sebagai lokasi pembangunan.

Lebih lanjut dijelaskan, di bawah kepemimpinan Wali Kota Sowa’a Laoli, pihak pemerintah bahkan sudah turun langsung meninjau lokasi kediaman keluarga Ina Jefri, serta berupaya sekuat tenaga membantu proses hingga pembiayaan pembelian tanah yang sesuai syarat.

Hal itu pun dibenarkan secara tegas oleh Ama Ika Zebua. “Betul adanya. Bapak Wali Kota Sowa’a Laoli memang sudah datang langsung ke lokasi, dan saat itu ada upaya serius dari Pemerintah Kota untuk membantu mencarikan sekaligus menanggung biaya pembelian tanah, guna mewujudkan rumah layak huni bagi keluarga ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski berbagai upaya telah dilakukan bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat, namun pada waktu itu belum ditemukan lahan yang memenuhi syarat dan kesepakatan bersama. Akibatnya, rencana bantuan yang sudah disusun tersebut akhirnya tertunda dan belum dapat dilaksanakan hingga saat ini.

Saat kunjungan Komunitas Peduli Sahabat Kota Gunungsitoli ke kediamannya beberapa hari lalu, Ina Jefri akhirnya berani membuka suara dan menceritakan kenyataan pahit yang selama ini ia simpan sendirian.

Dengan suara gemetar dan mata berkaca-kaca menahan kesedihan, ia mengungkapkan bahwa suaminya memilih pergi meninggalkan keluarga dan hidup bersama wanita lain, semata karena tidak sanggup menghadapi keterbatasan ekonomi serta kehidupan yang serba sulit.

Pria itu merasa tidak betah tinggal di gubuk tua yang sempit, reyot dan tidak layak huni, serta tidak berani memikul beban tanggung jawab membesarkan dan menafkahi sebelas orang anak kandungnya.

Akhirnya, ia memilih jalan yang dianggapnya paling mudah, meninggalkan seluruh kewajiban sebagai kepala keluarga demi kehidupan yang dirasanya lebih nyaman.

“Selain memilih hidup bersama wanita lain, alasan utamanya adalah dia tidak kuat hidup dalam keterbatasan, tidak sanggup tinggal di rumah tua yang sempit dan tidak layak. Apalagi harus memikirkan kebutuhan makan, biaya sekolah serta segala kebutuhan sebelas anak kami. Dia memilih pergi mencari kehidupan yang dianggapnya lebih baik, membiarkan kami semua berjuang sendirian menanggung seluruh beban hidup,” ungkap Ina Jefri dengan nada lirih yang menyayat hati.

Meski hatinya penuh rasa perih dan kekecewaan mendalam atas sikap suaminya yang tidak bertanggung jawab, Ina Jefri tidak pernah larut dalam kesedihan, apalagi menyerah pada keadaan. Ia bangkit dengan ketegaran luar biasa, memikul peran ganda sekaligus sebagai ayah dan ibu bagi kesebelas buah hatinya, bekerja keras siang malam tanpa kenal lelah demi menjamin kebutuhan hidup serta masa depan anak-anaknya tetap terpenuhi dengan baik.

Kini, kendala terbesar yang selama bertahun-tahun menjadi penghalang harapannya telah sepenuhnya teratasi: ia sudah memiliki tanah milik sendiri yang sah, resmi dan memiliki status hukum yang jelas. Di hadapan rombongan Komunitas Peduli Sahabat Kota Gunungsitoli, ia pun menyampaikan permohonan tulus yang telah lama tersimpan di hatinya.

Ia memohon kepada Pemerintah Kota Gunungsitoli agar kembali melirik dan memprioritaskan keluarganya dalam program bantuan pembangunan Rumah Layak Huni, serta mengembalikan harapan yang sempat tertunda dan hampir pupus di masa lalu.

“Dulu saya tidak bisa mendapatkan bantuan, bahkan usulan itu sempat ditolak dan dibatalkan oleh suami saya sendiri dengan alasan saya belum memiliki tanah milik sendiri. Padahal, keluarga suami sama sekali tidak bersedia menyerahkan lahan untuk kepentingan saya dan anak-anak yang sudah ditinggalkan. Namun sekarang semuanya telah berubah total. Tanah ini saya terima sebagai hibah resmi dari mertua saya, sebelum beliau berpulang ke pangkuan Tuhan,” ujarnya lembut, sambil air mata perlahan menetes di pipinya.

Ia menambahkan dengan perasaan yang sangat terharu: “mertua saya saja masih memiliki hati nurani, masih ingat dan peduli nasib kami serta cucu-cucunya. Padahal anak kandungnya sendiri yang seharusnya menjadi ayah dan pelindung utama anak-anak justru pergi tanpa kabar berita, bahkan tanpa rasa tanggung jawab sedikitpun.

Ini menjadi bukti nyata, kasih sayang dan kebaikan hati orang tua jauh lebih tulus dan nyata daripada janji setia yang dulu pernah diucapkan suami sayai.”

Sebagai bukti sah yang tidak dapat dibantah, Ina Jefri memperlihatkan surat hibah tanah yang telah disahkan secara administrasi pemerintahan desa. Dokumen tersebut telah ditandatangani langsung oleh Kepala Desa, Kepala Dusun, serta disaksikan oleh saksi-saksi resmi yang diakui pemerintah.

Tertulis jelas di dalamnya, sebidang tanah berukuran 8 meter lebar dan 10 meter panjang, yang kini sudah menjadi hak milik penuh dan mutlak atas nama Ina Jefri Zebua.

Sebidang tanah itu ia dapatkan semata dari kebaikan hati orang tua mertua, bukan dari hasil kerja keras maupun rasa tanggung jawab seorang suami yang seharusnya menjadi pelindung utama rumah tangga. Sebuah kenyataan yang sangat menyayat hati, namun sekaligus menjadi kekuatan dan harapan baru yang besar bagi Ina Jefri serta kesebelas anak-anaknya.

Dengan kepemilikan tanah yang sudah pasti, aman dan bebas dari segala hambatan maupun campur tangan pihak lain, harapan Ina Jefri sangatlah sederhana namun memiliki makna yang sangat besar bagi kehidupan mereka. Ia sama sekali tidak meminta kemewahan, tidak menginginkan hal yang berlebihan. Ia hanya menginginkan satu hal saja: memiliki rumah yang kokoh, aman, sehat dan layak dihuni.

Sebuah tempat tinggal tempat kesebelas anak-anaknya dapat tumbuh besar dengan tenang, sehat dan bahagia, tempat mereka berlindung dari terik matahari maupun derasnya hujan, tempat mereka dapat tidur nyenyak tanpa rasa takut dan cemas, serta tempat mereka merasakan kehangatan keluarga meskipun hanya diisi oleh kasih sayang seorang ibu yang penuh pengorbanan.

Harapan sederhana itu sejatinya adalah hak dasar yang seharusnya diusahakan, diberikan dan dipenuhi oleh seorang ayah bagi anak-anaknya. Namun kenyataan hidup berkata lain, hak itu harus diperjuangkan sendiri oleh seorang ibu yang ditinggalkan dan Ditelantarkan suami, kini ia berharap bahwa harapan itu dapat terwujud berkat perhatian penuh dari Pemerintah Kota Gunungsitoli serta kepedulian tulus dari seluruh lapisan masyarakat.

Kisah perjuangan hidup Ina Jefri Zebua menjadi pelajaran berharga bagi kita semua: rasa tanggung jawab tidak selalu datang dari orang yang pernah berjanji setia sehidup semati, namun kasih sayang serta ketegaran hati seorang ibu akan selalu menjadi pelindung terkuat bagi anak-anaknya, meskipun harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan di dunia ini. (N.Lase)

 

Sumber : Ketua BPD Desa Hilinaa & Ina Jefri Zebua

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x