Damili R. Gea Paparkan 4 Fakta : Membedah Logika Bantuan Sosial Antara Teori dan Realitas

Redaksi
7 Mei 2026 23:24
InfoNias 0 4
4 menit membaca

Gunungsitoli, Matakeadilan.id //

Perdebatan mengenai fenomena publikasi bantuan sosial di media sosial yang sering dikaitkan dengan praktik riya dan pencitraan kembali menjadi sorotan publik.

Menanggapi narasi yang berusaha membenarkan praktik tersebut dengan dalih ilmu pengetahuan dan teori ekonomi, Tokoh Masyarakat Kota Gunungsitoli, Damili R. Gea, S.H., M.Si. hadir memberikan analisis mendalam.

Ia membedah secara tajam kesenjangan yang terjadi antara teori yang indah tertulis di atas kertas dengan realitas sosial yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Berikut penjelasannya :

1. FAKTA KONTEKS : TRANSPARANSI BUKANLAH PENCITRAAN

Damili menegaskan, terdapat perbedaan yang sangat mendasar dan prinsipil antara publikasi yang dilakukan oleh lembaga resmi negara atau organisasi internasional dengan publikasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu. Argumen yang menyamakan kedua hal tersebut dinilai keliru secara logika dan konsep.

Publikasi Lembaga/Negara: Ketika pemerintah, lembaga PBB seperti UNICEF, atau organisasi kemanusiaan seperti PMI mempublikasikan kegiatan bantuan, hal itu merupakan kewajiban hukum dan administrasi. Tujuannya murni untuk akuntabilitas, transparansi anggaran, dan laporan pertanggungjawaban publik.

Publikasi Individu: Seringkali dilakukan dengan gaya yang teatrikal, dramatis, dan lebih berorientasi pada pencarian validasi, pujian, serta popularitas pribadi di mata masyarakat.

“BLT dan program pemerintah adalah hak konstitusional rakyat, bukan hadiah atau sedekah dari penguasa. Negara wajib mensejahterakan rakyatnya. Jadi sangat tidak proporsional dan timpang jika membandingkan kewajiban negara dengan kedermawanan pribadi yang tujuannya mencari apresiasi publik,” ujar Damili dengan tegas.

2. FAKTA SOSIOLOGIS : BAHAYA MENTALITAS KETERGANTUNGAN

Meskipun secara logika dasar benar bahwa manusia butuh memenuhi kebutuhan dasar dulu baru bisa berpikir maju, namun pola bantuan yang dilakukan secara berlebihan, konsumtif, dan tanpa arah justru terbukti secara sosiologis dapat merusak karakter masyarakat.

Jika pola “memberi ikan” dilakukan terus menerus tanpa disertai upaya mengajari cara memancing, maka secara perlahan manusia akan kehilangan insting berjuang dan inisiatif. Hal ini memunculkan mentalitas “menunggu dan meminta”, yang menggantikan budaya luhur “berusaha dan bekerja”.

Fakta di lapangan menunjukkan, perilaku bergantung pada belas kasihan justru tumbuh subur dan menjadi budaya karena masyarakat terbiasa melihat kemudahan mendapatkan perhatian dan materi lewat tayangan media sosial.

“Klaim bahwa bantuan tidak merusak mentalitas adalah pandangan yang terlalu idealis dan naif. Realitasnya, orang jadi malas bekerja keras karena merasa lebih mudah dan enak mengandalkan simpati publik,” tegasnya.

3. FAKTA EKONOMI : MULTIPLIER EFFECT TIDAK BOLEH MENYESATKAN

Secara hitungan angka dan teori ekonomi makro, bantuan memang terbukti memutar uang di masyarakat. Namun, mereduksi makna kompleks dari sebuah kegiatan sosial hanya sekadar menjadi instrumen perputaran ekonomi adalah analisis yang dangkal dan tidak utuh.

Bantuan yang hanya bersifat konsumtif efeknya hanya sesaat dan tidak berkelanjutan. Tanpa disertai program pemberdayaan yang nyata, bantuan semacam itu tidak akan pernah mampu mengubah struktur kemiskinan secara permanen.

“Terlalu simplistik jika menilai semua kebaikan hanya dari sisi angka-angka, tanpa melihat dampak budaya dan moral jangka panjang bagi masyarakat. Teori ekonomi makro boleh indah di kertas, tapi di daerah kita, membiarkan kepedulian dijadikan komoditas dagang justru merendahkan martabat bantuan itu sendiri,” pungkasnya.

4. FAKTA ETIKA : KRITIK BUKAN BERMAKNA MENGHAKIMI, TAPI MENILAI PERILAKU

Argumen yang sering digunakan bahwa “tidak bisa menuduh seseorang berbuat riya karena hanya Tuhan yang tahu isi hati” perlu diluruskan. Dalam etika publik dan ilmu sosial, kita memiliki standar untuk menilai sebuah tindakan.

Meskipun niat batin hanya Tuhan yang tahu, namun cara penyampaian, gaya bahasa, dan ekspektasi akan pujian bisa dinilai secara objektif sebagai indikator perilaku. Kritik terhadap praktik yang beraroma riya bukan berarti membenci kebaikan, melainkan upaya menjaga kemurnian niat dan etika.

“Jika tujuannya murni membantu dan tulus ikhlas, kenapa harus dibuat sedemikian rupa, bahkan mendramatisir penderitaan orang lain, hanya untuk menonjolkan kehebatan diri sendiri?” tanya Damili.

“Kita menolak jika kepedulian dijadikan alat pencitraan yang pada akhirnya justru melumpuhkan kemandirian bangsa. Teori boleh indah, tapi realitas sosial dan nilai-nilai kearifan lokal harus tetap menjadi acuan utama,” tegas Damili.

KESIMPULAN : KEDUANYA BUKAN MUSUH, TAPI HARUS SEIMBANG

Pada akhirnya, Damili R. Gea menegaskan bahwa membantu orang yang lapar dan kesusahan hari ini adalah kewajiban kemanusiaan. Namun, mengajari mereka mandiri dan bekerja keras adalah solusi pembangunan jangka panjang. Keduanya bukan musuh, melainkan harus berjalan beriringan dan seimbang.

“Masyarakat tidak butuh pertarungan ego atau pertarungan narasi. Yang dibutuhkan adalah keberanian membantu dengan tulus, memberdayakan dengan cerdas, dan mengkritik dengan adil dan bermartabat,” tutup Damili R. Gea. (N.Lase)

 

Sumber : Tokoh Masyarakat Kota Gunungsitoli, Damili R. Gea, S.H., M.Si

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x