Foto : Upacara Api Unggun KKRI 2026 di Lapangan Makodim 0213/NiasGunungsitoli, Matakeadilan.id //
Saat malam merayap turun dan bintang menghiasi langit Gunungsitoli, nyala api unggun menyala terang membelah kegelapan Lapangan Bola Voli Makodim 0213/Nias. Cahayanya tak sekadar menerangi tempat, melainkan menjadi simbol harapan yang membara, sama seperti semangat 250 orang peserta Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) Tahun 2026 yang berdiri tegap menanti arahan. Malam itu, Sabtu (20/6/2026) pukul 23.00 WIB, menjadi momen bersejarah.
Komandan Distrik Militer 0213/Nias, Letkol Inf Sampe T. Butar Butar, S.I.P., hadir bukan sekadar memimpin upacara, melainkan menegaskan tanggung jawab bersama dalam membentuk calon pemimpin yang berintegritas.
Di hadapan api yang menari‑nari, Dandim berbicara dengan nada yang menyentuh namun tegas. Ia mengingatkan bahwa kemakmuran bukan jaminan ketangguhan seseorang, karena yang menjadi benteng adalah karakter yang dibentuk sejak muda. “Mulailah dari hal yang paling dekat dengan hati, berbakti pada orang tua, menjadikan ilmu sebagai penuntun hidup, bukan sekadar kewajiban,” pesannya, seolah sedang menitipkan harapan kepada anak‑anak sendiri.
Ia juga mengingatkan bahaya‑bahaya yang mengancam masa depan seperti narkotika, minuman keras, dan perbuatan yang merugikan diri serta sesama. “Kalian adalah aset daerah dan bangsa. Jika kalian kehilangan arah, siapa lagi yang akan memikul tanggung jawab menjaga keadilan dan kesejahteraan ini?” tanyanya memancing kesadaran. Generasi muda harus tumbuh menjadi pribadi yang tak hanya cerdas, tetapi juga peka terhadap lingkungan dan memiliki hati yang adil.
Perhatiannya meluas hingga ke kehidupan sehari‑hari. Ia mengimbau kedisiplinan di jalan raya, menghindari gaya mengemudi ugal‑ugalan yang bisa merenggut nyawa, karena keselamatan adalah hak setiap orang.
Di tengah derasnya arus informasi, ia mengajak kebijaksanaan, “Terapkan prinsip ‘Saring Sebelum Sharing’. Jangan biarkan berita bohong menyebar dan merusak ketertiban masyarakat, karena kebenaran adalah fondasi keadilan.”
Menutup amanatnya, Dandim menatap hadirin dengan penuh harap. “Masa muda takkan datang dua kali. Isilah dengan belajar tekun, beribadah tulus, dan berbuat baik, mulai dari hal‑hal kecil yang bisa mengubah lingkungan sekitar menjadi lebih adil dan damai,” ucapnya mengakhiri.
Ketika api perlahan meredup dan upacara berakhir tertib, tak hanya abu yang tertinggal. Di sanalah tertanam benih‑benih baru, kebersamaan yang kuat, jiwa nasionalisme yang tumbuh, dan semangat keadilan yang menyala di dada setiap peserta, harus siap menjadi penerus yang tangguh bagi Nias dan Indonesia. (N.Lase)


Tidak ada komentar