Foto : masyarakat bersama aparatur kampung dan Bhabinkamtibmas saat mengusir kawanan gajah liar (ist/dok)BENER MERIAH, Matakeadilan.id //
Konflik antara manusia dan gajah liar kembali mencuat di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Selama lebih dari sebulan, kawanan gajah liar berkeliaran di sekitar permukiman Kampung Pancar Jelobok, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Kondisi tersebut memicu keresahan warga lantaran sejumlah rumah dan lahan pertanian mengalami kerusakan.
Reje Kampung Pancar Jelobok, Aida Putra, mengatakan gangguan kawanan gajah hampir setiap malam menjadi laporan yang diterimanya dari kepala dusun maupun masyarakat. Situasi paling mengkhawatirkan terjadi di Dusun Tran 1 dan Dusun Sentosa Indah.
“Sudah lebih dari sebulan gajah tersebut berada di sekitar permukiman. Hampir setiap hari kami mendapat laporan dari kepala dusun dan warga. Beberapa rumah serta lahan pertanian mengalami kerusakan,” ujar Aida, Jumat (25/9/2026).
Menurut Aida, pemerintah kampung telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Camat Pintu Rime Gayo untuk diteruskan kepada instansi terkait. Namun, hingga kini, warga belum memperoleh penanganan lapangan sebagaimana yang diharapkan.
Kondisi itu membuat masyarakat bersama aparatur kampung dan Bhabinkamtibmas mengambil langkah swadaya. Mereka melakukan penggiringan untuk menjauhkan kawanan gajah dari kawasan permukiman.
Aida mengaku khawatir terhadap keselamatan masyarakat. Pasalnya, sekitar lima ekor gajah masih berada di sekitar kawasan permukiman dan perilakunya dinilai membahayakan warga yang melakukan pemantauan pada malam hari.
“Saya khawatir terhadap keselamatan warga. Saat ini ada sekitar lima ekor gajah di pemukiman dan sangat mengancam keselamatan karena beberapa kali mengejar warga yang berjaga pada malam hari. Kami berharap pihak terkait segera mengambil tindakan karena kondisi ini sudah darurat dan membutuhkan penanganan serius,” katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Emansahri, warga yang turut melakukan penggiringan. Menurutnya, penanganan tidak dapat terus bertumpu pada kemampuan masyarakat karena risiko yang dihadapi menyangkut keselamatan jiwa sekaligus keberlangsungan mata pencaharian warga.
“Kami menanti penanganan serius dari pemerintah dan pihak terkait agar konflik gajah dan manusia ini dapat diminimalisir. Jangan sampai persoalan ini menimbulkan korban jiwa maupun kerugian terhadap mata pencaharian warga,” harapnya.
Konflik manusia dengan gajah di sejumlah wilayah Kecamatan Pintu Rime Gayo bukan persoalan baru. Persoalan tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan berkali-kali menimbulkan kerusakan. Warga juga menyebut terdapat riwayat korban jiwa akibat serangan gajah serta temuan gajah mati dalam konflik serupa.
Kondisi terkini kembali menempatkan masyarakat pada situasi rentan. Warga tidak hanya menghadapi ancaman terhadap rumah dan lahan pertanian, tetapi juga risiko keselamatan ketika melakukan penjagaan secara mandiri.
Masyarakat berharap pemerintah dan instansi berwenang segera menghadirkan langkah penanganan yang terukur untuk mengendalikan konflik tanpa membahayakan warga maupun satwa yang dilindungi. Penanganan yang berkelanjutan dinilai penting agar konflik serupa tidak terus berulang dan tidak berkembang menjadi tragedi kemanusiaan maupun ancaman terhadap kelestarian satwa. (Wenjuans)
Sumber : Liputan dan reje kampung pancar jelobok


Tidak ada komentar