Jejak Mursal di Enang-Enang: Nama yang Kembali Muncul dari Lipatan Sejarah

Redaksi
22 Jun 2026 19:38
News 0 240
5 menit membaca

Takengon, Matakeadilan.id //

Gelombang kepedulian masyarakat terhadap pemulihan kawasan Enang-Enang yang berlangsung secara swadaya telah menghadirkan satu kenyataan yang lama tersimpan di balik tebing dan tikungan jalur pegunungan Gayo.

Di tengah perhatian publik terhadap proses pembenahan yang digagas Syahrial Abadi bersama para relawan, sejarah tentang sosok pembuat tulisan legendaris “Tajuk Enang-Enang” kembali mengemuka setelah bertahun-tahun nyaris tenggelam dalam ingatan kolektif masyarakat.

Kawasan Enang-Enang, yang menghubungkan wilayah Bireuen dengan Takengon di kawasan Tanoh Gayo, selama ini dikenal sebagai salah satu jalur paling bersejarah di Aceh.

Ruas jalan tersebut telah dibuka sejak masa kolonial Belanda ketika keterbatasan teknologi membuat pekerjaan konstruksi hanya dapat dilakukan melalui tenaga manusia dengan peralatan sederhana.

Di sepanjang jalur yang membelah pegunungan itu, sebuah tulisan besar bertuliskan “Tajuk Enang-Enang” selama puluhan tahun berdiri sebagai penanda kawasan. Ribuan kendaraan melintas setiap tahun, sementara jutaan pasang mata menyaksikan keberadaannya. Namun, nama yang berada di balik ukiran tersebut perlahan menghilang dari ruang sejarah yang diketahui masyarakat luas.

Berdasarkan penuturan sejumlah sumber yang berkembang di masyarakat Gayo, sosok yang disebut sebagai pembuat tulisan tersebut adalah Aman Mursal, yang lebih dikenal dengan nama Awan India. Dalam sejumlah riwayat lisan lainnya, nama yang sama juga disebut sebagai Usman atau Usaman. Perbedaan penyebutan itu hidup dalam tradisi tutur masyarakat, namun seluruh kisah merujuk pada satu figur yang sama.

Mursal dilahirkan di Kampung Uning Bersah pada tahun 1925 sebagai putra bungsu pasangan Baramsyah dan Jemala. Masa mudanya dikenal sebagai pribadi yang kuat secara fisik serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Di lingkungan tempat tinggalnya, karakter tersebut menjadikan dirinya sosok yang disegani.

Ketika pendudukan Jepang berlangsung di Indonesia, Mursal direkrut untuk mengikuti pelatihan militer. Bersama sejumlah pemuda pilihan dari Aceh, ia diberangkatkan untuk kepentingan perang Jepang di kawasan Asia.

Dalam berbagai sumber lokal disebutkan bahwa dirinya termasuk dalam kelompok 33 tentara pilihan dari Aceh dan menjadi satu-satunya putra berdarah Gayo yang ikut dalam rombongan tersebut untuk menghadapi peperangan melawan Rusia.

Perjalanan perang membawa Mursal jauh meninggalkan kampung halaman dan kedua orang tuanya. Situasi berubah drastis ketika Jepang mengalami kekalahan setelah peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki oleh pasukan Sekutu pada tahun 1945. Kekalahan tersebut mengakhiri berbagai operasi militer yang sebelumnya dijalankan Jepang di kawasan Asia.

Dalam catatan yang berkembang di masyarakat, kapal yang ditumpangi rombongan tentara tempat Mursal berada kemudian terombang-ambing di lautan hingga akhirnya terdampar di Kepulauan Andaman.

Kehidupan baru dijalani di wilayah tersebut selama beberapa tahun. Pembauran dengan masyarakat setempat berlangsung dalam waktu yang panjang hingga bahasa lokal dapat dikuasai dengan baik.

Pengalaman hidup di wilayah Andaman inilah yang kemudian melahirkan julukan Awan India. Nama tersebut terus melekat ketika dirinya akhirnya kembali ke tanah Gayo setelah pemerintah Indonesia pada masa Presiden Soekarno menjalankan kebijakan pemulangan warga negara yang terdampar akibat perang.

Kepulangan yang dinanti bertahun-tahun ternyata diiringi kenyataan pahit. Setibanya di kampung halaman, Mursal mendapati ayahnya, Baramsyah, telah lebih dahulu meninggal dunia. Kerinduan yang dipendam selama masa pengasingan tidak pernah menemukan pertemuan yang diharapkan.

Peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Ketika konflik DI/TII berkembang di berbagai wilayah, kesempatan untuk kembali masuk ke dunia militer sempat terbuka melalui proses perekrutan yang melibatkan mantan tentara pada masa Jepang.

Namun pilihan berbeda diambil. Kehidupan bersama keluarga lebih dipertahankan dibandingkan kembali berada di tengah konflik bersenjata.

Keahlian sebagai pekerja bangunan kemudian menjadi jalan hidup yang dijalani. Pada dekade 1960-an, Mursal mulai terlibat dalam berbagai pekerjaan konstruksi melalui CV Sarana yang dipimpin Syamsudin, tokoh asal Kebayakan, Aceh Tengah.

Dalam berbagai proyek pembangunan, Mursal bekerja bersama sejumlah rekan yang dikenal masyarakat setempat, antara lain Aman Ries dan Aman As.

Berbagai pekerjaan konstruksi dilakukan di sejumlah wilayah dataran tinggi Gayo. Pembangunan masjid, fasilitas umum, penguatan jalan, serta pembangunan turap menjadi bagian dari aktivitas yang dijalani selama bertahun-tahun.

Salah satu kontribusi yang paling dikenang hadir ketika pembangunan kawasan Timang Gajah, Tenge Besi, dan Enang-Enang dilakukan pada dekade 1970-an.

Pada masa itu, kawasan Enang-Enang masih berupa hutan belantara yang didominasi vegetasi lebat dan menjadi habitat berbagai satwa liar. Wilayah di sekitar Memderek dan Arul Cincin belum berkembang seperti saat ini.

Aktivitas pembangunan dilakukan dalam kondisi yang penuh keterbatasan, jauh dari fasilitas yang tersedia pada masa sekarang.

Di tengah pekerjaan itulah tulisan “Tajuk Enang-Enang” diukir pada dinding batu. Ukiran tersebut kemudian menjadi simbol yang dikenal lintas generasi.

Keberadaannya bertahan selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari identitas jalur pegunungan yang menghubungkan pesisir Aceh dengan dataran tinggi Gayo.

Waktu berjalan, generasi berganti, dan sebagian besar saksi sejarah perlahan menghilang. Namun tulisan yang dikerjakan Mursal bersama rekan-rekannya tetap berdiri sebagai penanda perjalanan panjang kawasan tersebut.

Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu pada tahun 2025 menyebabkan sebagian area mengalami kerusakan, termasuk bagian yang memiliki nilai historis.

Situasi tersebut memunculkan gerakan pemulihan yang diprakarsai Syahrial Abadi bersama masyarakat dan relawan. Pembenahan yang dilakukan tidak hanya diarahkan pada perbaikan fisik kawasan, tetapi juga pada upaya menjaga nilai sejarah yang melekat di dalamnya.

Di balik viralnya Enang-Enang hari ini, tersimpan kisah tentang Aman Mursal, Awan India, atau Usman, putra Baramsyah dan Jemala dari Uning Bersah yang pernah terseret pusaran perang, terdampar di Kepulauan Andaman, kembali ke Tanoh Gayo, lalu memilih mengabdikan hidupnya sebagai pekerja bangunan bersama Syamsudin, Aman Ries, dan Aman As. Jejak yang ditinggalkan tidak tertulis dalam monumen besar, melainkan terpahat pada dinding batu di Enang-Enang.

Mursal akhirnya berpulang pada tahun 1999 dan dimakamkan di kampung halamannya. Namun hingga kini, tulisan yang pernah diukir tangannya masih dapat disaksikan oleh setiap orang yang melintasi jalur tersebut. Sebuah warisan sederhana yang menyimpan perjalanan panjang sejarah, pengorbanan, kehilangan, dan dedikasi yang melampaui zamannya. (Wenjuans)

 

Sumber :Dikutip dari beberapa sumber jika terjadi perbedaan sejarah ini menjadi kekhilafan penulis secara pribadi yang perlu untuk di luruskan demi nilai history yang tak tersamarkan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x