
Bener Meriah, Matakeadilan.id //
Upaya pemulihan lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat kembali dijalankan di wilayah dataran tinggi Gayo. Lembaga Swadaya Masyarakat Aceh Hijau Lestari (LAHIR) menyalurkan ratusan ribu bibit tanaman produktif kepada masyarakat di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, sebagai bagian dari program penghijauan sekaligus penguatan ekonomi warga berbasis pertanian berkelanjutan.
Sebanyak 210 ribu batang bibit disalurkan kepada masyarakat yang tersebar di sejumlah desa, meliputi Desa Perdamaian, Rata Ara, Rime Raya, Pulo Intan, Taman Firdaus, Singah Mulo, Simpang Lancang, Bener Meriah, Ulu Naron, Pancar Jelobok, hingga Desa Pantan Sinaku.
Penyaluran tersebut diproyeksikan menjadi salah satu langkah rehabilitasi kawasan hijau yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Jenis tanaman yang dibagikan terdiri atas alpukat, durian, pete papan, lamtoro, mahoni, dan suren. Komoditas tersebut dipilih karena dinilai memiliki nilai ekologis sekaligus prospek ekonomi jangka panjang bagi masyarakat di kawasan perbukitan dan lahan pertanian rakyat.
Program tersebut diposisikan tidak hanya sebagai agenda penghijauan semata, melainkan juga bagian dari skema pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan. Tanaman produktif yang mulai ditanam di lahan milik warga diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani dalam beberapa tahun mendatang, terutama di tengah meningkatnya tantangan ekonomi sektor pertanian tradisional.
Selain aspek ekonomi, penanaman pohon dalam skala besar tersebut dipandang memiliki kontribusi terhadap pengurangan dampak pemanasan global melalui peningkatan tutupan vegetasi dan konservasi kawasan resapan air. Wilayah Kabupaten Bener Meriah yang berada di kawasan pegunungan dinilai memerlukan langkah-langkah mitigasi berbasis lingkungan guna menekan potensi bencana ekologis.
Pelaksanaan program sejatinya telah dimulai sejak November 2025 melalui tahapan pendataan dan pengukuran lahan milik masyarakat penerima manfaat. Namun proses distribusi bibit sempat tertunda akibat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bener Meriah, termasuk Kecamatan Pintu Rime Gayo, pada 26 November 2025 lalu.
Situasi tersebut menyebabkan agenda lapangan mengalami penyesuaian hingga akhirnya penyaluran bibit baru dapat direalisasikan pada Mei 2026. Setelah kondisi wilayah dinilai memungkinkan, distribusi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan tim pendamping di lapangan.
Program itu disambut positif oleh masyarakat penerima manfaat. Ramlan, salah seorang petani penerima bantuan, menyampaikan apresiasi atas bantuan bibit yang diterimanya. Menurutnya, program tersebut memberikan harapan baru bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian.
“Dengan penanaman bibit ini, masyarakat bukan hanya ikut menjaga lingkungan, tetapi juga memiliki peluang untuk meningkatkan penghasilan keluarga di masa mendatang,” ujarnya.
Pernyataan serupa juga tercermin dari antusiasme warga di sejumlah desa penerima program. Penanaman tanaman produktif dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, terutama bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada hasil perkebunan musiman.
Tim pelaksana kegiatan, Derajatun Akbar, menyampaikan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada proses distribusi bibit, tetapi juga pada komitmen masyarakat dalam melakukan perawatan tanaman secara berkelanjutan.
Pendampingan lapangan, menurutnya, akan terus dilakukan guna memastikan seluruh bibit dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat nyata bagi warga.
Pentingnya pemeliharaan tanaman turut menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program tersebut. Sebab, keberhasilan penghijauan tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, melainkan juga tingkat keberlangsungan hidup tanaman hingga memasuki fase produktif.
Pendampingan teknis kepada masyarakat disebut akan terus dijalankan oleh tim lapangan, mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga pemantauan pertumbuhan tanaman.
Langkah itu dilakukan agar tujuan program, baik dari sisi ekologis maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat, dapat tercapai secara maksimal.
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan di sejumlah kawasan hutan dan pegunungan Aceh, program berbasis kolaborasi masyarakat seperti yang dijalankan LAHIR dipandang menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kolektif terhadap pelestarian lingkungan hidup.
Penguatan ekonomi berbasis tanaman produktif juga dinilai mampu menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat pedesaan.
Dengan pola penanaman yang terarah dan pendampingan berkelanjutan, kawasan pertanian rakyat di Kecamatan Pintu Rime Gayo diharapkan tidak hanya menjadi penyangga ekonomi masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai benteng ekologis yang menjaga keseimbangan lingkungan di wilayah dataran tinggi Bener Meriah. (Wenjuans)


Tidak ada komentar