Foto: Komunitas Peduli Sahabat Kota Gunungsitoli bersama Ina Jefri dan sebagian anak-anaknyaGunungsitoli, Matakeadilan.id //
Dalam moment peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 2026 yang lalu. Komunitas Peduli Sahabat Kota Gunungsitoli menggelar aksi sosial berbagi tali asih bagi warga yang membutuhkan dukungan.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila, khususnya sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta Persatuan Indonesia, untuk menumbuhkan rasa saling peduli dan meringankan beban sesama saudara bangsa.
Aksi sosial yang berlangsung penuh keikhlasan ini dipimpin langsung oleh Tokoh Masyarakat Kota Gunungsitoli, Damili R. Gea, S.H., M.Si. Langkah mulia tersebut mendapat sambutan hangat dan respon positif dari berbagai lapisan masyarakat.
Bahkan sejumlah warga secara sukarela turut bergabung dan hadir langsung di lokasi, di antaranya Marthin Hulu, Yaminudin Laoli, Taufik Gulo, Darisalim Telaumbanua, Markus Ka’ide Hulu, dan Siswanto Laoli. Bersama-sama, mereka menyerahkan dan mengantar bantuan ke kediaman Ibu Ina Jefri Zebua, warga Desa Hilinaa yang hidup di tengah keterbatasan ekonomi.
Bantuan yang diserahkan terdiri dari enam jenis kebutuhan pokok sehari-hari, meliputi beras 20 kilogram, minyak goreng 2 liter, mie telur 2 kilogram, mie instan 2 karton, gula pasir 2 kilogram, teh celup 2 bungkus, serta telur ayam sebanyak 2 papan.
Seluruh bantuan ini dikumpulkan murni dari sumbangan tulus anggota komunitas dan masyarakat, tanpa adanya kepentingan pribadi, paksaan, maupun tujuan pamer kebaikan. Semuanya disiapkan semata-mata untuk berbagi kebahagiaan dan kepedulian di momen bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Kegiatan berbagi ini dilakukan sebagai langkah nyata kepedulian, mengingat masih banyak warga yang membutuhkan perhatian dan dukungan, terutama dari segi ekonomi agar dapat terus bertahan hidup.
Salah satu kisah yang paling menyentuh hati adalah perjalanan hidup Ibu Ina Jefri Zebua, yang harus berjuang sendirian membesarkan, merawat, hingga menafkahi 11 orang anaknya, tanpa mendapatkan dukungan sedikitpun dari suami.
Kisah perjuangan itu diceritakan secara terbuka dan penuh haru oleh Ina Jefri saat ditemui rombongan di kediamannya yang sangat sederhana, pada Jumat (5/6/2026).
Dengan suara gemetar menahan tangis, Ina Jefri menceritakan derita yang ia alami selama bertahun-tahun. Ia mengaku terpaksa bekerja keras, hanya untuk mencukupi kebutuhan makan, pakaian, hingga biaya sekolah kesebelas anak-anaknya. Sudah kurang lebih 7 tahun lamanya, suaminya bernama Faozanolo Zebua pergi meninggalkan dirinya beserta seluruh anak-anak mereka.
“Hal yang paling menyakitkan hati, hingga saat ini suami saya, Faozanolo Zebua, masih bertempat tinggal di wilayah Kota Gunungsitoli, namun tidak pernah memberikan nafkah, bahkan tidak pernah sekalipun datang untuk melihat atau menanyakan kabar saya dan anak-anak kami. Bahkan, suami saya menyangkal dan tidak mau mengakui anak-anak kami sebagai darah dagingnya sendiri. Ia lebih memilih pergi dan hidup bersama perempuan lain, lalu meninggalkan seluruh tanggung jawab keluarga begitu saja,” tutur Ina Jefri dengan suara bergetar.
Lebih jauh lagi, ia menceritakan peristiwa yang membuat hatinya semakin terluka. Dulu, saat Wali Kota Gunungsitoli, Sowa’a Laoli, berkunjung ke kediamannya dan melihat kondisi rumahnya yang berupa gubuk reyot serta tidak layak huni, Pemerintah Kota Gunungsitoli telah berniat memberikan bantuan pembangunan rumah layak huni untuk keluarganya. Namun rencana kebaikan itu tidak dapat terlaksana, karena ditolak keras oleh suaminya sendiri.
“Bapak Wali Kota sudah berbaik hati menawarkan bantuan pembangunan rumah layak huni, tetapi suami saya menolak dengan alasan rumah itu akan dibangun atas nama saya dan karena tanah yang rencananya dibangun pemerintah adalah rumah yang kami tempati, tanah milik orang tua suami atau mertua saya. Akibat penolakan itu, akhirnya bantuan rumah tersebut batal dibangun oleh Pemerintah Kota Gunungsitoli,” ungkap Ina Jefri dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan.
Menambahkan keterangan tersebut, salah satu anak kandung Ina Jefri, yaitu Hanna Katerini Zebua, menceritakan kondisi tempat tinggal keluarga mereka saat ini. Menurut Hanna, sudah sekitar tiga bulan ini mereka terpaksa pindah dan menyewa rumah yang terletak tepat di depan gubuk lama mereka.
Hal itu dilakukan karena rumah lama sudah rusak parah dan sama sekali tidak layak lagi dihuni, sedangkan biaya perbaikan hingga renovasi total sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh ibunya. Biaya sewa rumah tersebut mencapai 7 juta rupiah per tahun, dan seluruh biaya itu ditanggung sepenuhnya oleh ibunya sendiri, tanpa bantuan sedikitpun dari ayahnya.
Hanna juga membenarkan bahwa Wali Kota Gunungsitoli memang pernah menawarkan bantuan pembangunan rumah bagi keluarga mereka.
“Bapak Wali Kota memang pernah menawarkan bantuan pembangunan rumah untuk kami, namun tawaran itu ditolak oleh ayah saya. Alasannya, tanah tempat tinggal kami adalah tanah milik orang tua ayah saya,” tegas Hanna Katerini Zebua, membenarkan keterangan yang disampaikan ibunya.
Keterangan tersebut juga dibenarkan langsung oleh saudara kandung ayah dari suami Ina Jefri, atau saudara laki-laki mertuanya, yang akrab disapa Ama Permintaan dan turut hadir di lokasi saat kegiatan berbagi tali asih berlangsung.
Ama Permintaan membeberkan fakta yang mengejutkan, bahwa suami Ina Jefri memang sudah lama tidak menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga. Ia tidak pernah menafkahi istri dan anak-anaknya, serta memilih pergi hidup bersama perempuan lain yang diakuinya sebagai istri baru.
Hal tersebut sama sekali tidak diketahui, tidak disetujui oleh seluruh keluarga besar, bahkan juga tidak disetujui oleh Ina Jefri sendiri. Terkait tawaran bantuan rumah dari Pemerintah Kota Gunungsitoli, Ama Permintaan memastikan bahwa penolakan itu murni datang dari Faozanolo Zebua selaku suami Ina Jefri.
Mendengar rangkaian kisah hidup yang begitu menyayat hati tersebut, Damili R. Gea selaku pemimpin rombongan menyampaikan rasa prihatin yang mendalam sekaligus menegaskan makna di balik pemberian tali asih yang mereka bawa.
“Bantuan yang kami berikan ini memang tidak seberapa nilanya, dan tidak akan pernah bisa menggantikan beratnya perjuangan Ibu Ina membesarkan 11 orang anak sendirian selama bertahun-tahun. Namun ini adalah wujud kecil kepedulian kami, bukti nyata pengamalan nilai Pancasila: kita adalah satu saudara, satu bangsa, yang wajib saling mengingat, saling membantu, dan saling menguatkan saat ada yang sedang jatuh dan dalam kesulitan. Kami ingin Ibu dan anak-anak merasakan bahwa kalian tidak sendirian, masih banyak orang baik di luar sana yang peduli dan selalu mendoakan perjuangan kalian,” tegas Damili R. Gea.
Ia juga berharap, aksi berbagi sederhana ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Gunungsitoli. Semangat kepedulian dan kebersamaan harus terus tumbuh dan diterapkan, bukan hanya di momen peringatan hari besar bangsa, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai luhur Pancasila tidak cukup hanya diucapkan dengan kata-kata, melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan nyata untuk meringankan beban saudara sesama.
Sementara itu, Ina Jefri Zebua mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Komunitas Peduli Sahabat Kota Gunungsitoli serta semua pihak yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan hati untuk datang memberikan bantuan.
Baginya, bantuan kebutuhan pokok yang sederhana itu sangat berharga dan bermakna besar, menjadi penopang kehidupan dirinya dan kesebelas anak-anaknya dalam menjalani hari-hari ke depan.
Kehadiran rombongan dan kebaikan hati yang ditunjukkan, menjadi kebahagiaan sekaligus kekuatan batin baru bagi Ina Jefri. Ia berjanji akan terus berjuang dengan tegar, tidak akan pernah menyerah, demi masa depan dan kebahagiaan kesebelas anak-anaknya yang menjadi satu-satunya harapan hidupnya. (N.Lase)


Tidak ada komentar