
Bener Meriah, Matakeadilan.id //
dalam bulan suci Ramadan dan pascabencana banjir serta tanah longsor, nasib kurang beruntung kini dialami para petani cabai di Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Setelah sempat menikmati harga tinggi pada akhir tahun lalu, para petani kini harus mengelus dada karena harga jual cabai anjlok drastis. Penurunan ini diduga akibat stok yang melimpah di pasaran serta kondisi cuaca yang memengaruhi kualitas hasil panen, selain itu momen bulan ramadhan permintaan pasar akan kebutuhan cabai menurun
Di tingkat produsen, harga cabai merah rata-rata pertanggal 26 februari 2026 berada di kisaran di bawah 16.000 per kilogram, di beberapa sentra produksi lokal, harga jual bisa jauh lebih rendah, bahkan menyentuh Rp13.000 per kilogram untuk varitas cabai merah, sementara cabai hijau di tingkat lokal berkisar 10 sampai 12 ribu rupiah perkilo gramnya. Selain cabai merah dan hijau paritas cabai lainnya juga ikut mengalami penurunan yang signifikan seperti cabai bencong, cabai caplak dan nano.
Harga tersebut di nilai tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus ditanggung petani. Harga pupuk nonsubsidi masih sangat mahal, ditambah lagi sulitnya mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi di sejumlah wilayah.
Salah seorang petani muda di Kecamatan Pintu Rime Gayo mengatakan harga cabai merah kali ini mengalami penurunan yang cukup tajam, sementara harga pupuk justru tinggi. Ia menyebutkan harga pupuk mencapai Rp800.000 hingga Rp900.000 per sak.
Ia menambahkan, saat ini petani terpaksa menggunakan pupuk dengan harga lebih murah, meskipun kualitasnya tidak sebaik pupuk yang biasa digunakan. Hal tersebut dilakukan karena harga pupuk utama yang biasa dipakai petani mengalami lonjakan.
Meski harga di tingkat petani rendah, harga di tingkat konsumen masih terpantau berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp.30.000 per kilogram. Disparitas harga yang lebar ini membuat petani berharap pemerintah segera melakukan langkah stabilisasi, baik melalui pengendalian harga maupun kemudahan akses pupuk murah.
Hingga kini, banyak petani terpaksa memanen cabai apa adanya tanpa perawatan maksimal guna menekan kerugian yang lebih besar.
Para petani pun berharap adanya regulasi yang dapat menjamin harga acuan pembelian di tingkat produsen tetap layak agar mereka tidak terus-menerus menjadi pihak yang paling dirugikan dalam rantai distribusi pangan.
Al Kausar salah seorang pengepul cabai di kecamatan Pintu Rime Gayo mengungkapkan ia kesulitan membeli hasil panen petani sebab harga tidak normal sering kali harga berubah akibat tidak normalnya daya beli cabai di pasar luar Aceh, ” untuk harga sering kali berubah kadang pagi harga masih mahal namun siang hari menjadi turun jadi kami sebagai pengumpul sering mengalami Kerugian belum lagi barang yang kami kirim ke luar Aceh rusak dan busuk akibat macet di jalan hingga barang kami terlambat sampai pasar sehingga di beli murah oleh toke di luar Aceh. Tutupnya.
( Juansyah )


Tidak ada komentar