RIYA Donasi : Indah di Layar Media, Bahaya di Mentalitas

Redaksi
6 Mei 2026 21:00
InfoNias 0 37
4 menit membaca

Gunungsitoli, Matakeadilan.id //

Di tengah upaya bersama membangun mentalitas kemandirian dan memperkokoh fondasi ekonomi daerah, pola bantuan sosial yang kerap dipertontonkan di media sosial oleh seseorang yang mengaku sebagai Pengusaha dan Pengamat Ekonomi justru mendapat sorotan tajam.

Tokoh masyarakat Kepulauan Nias, Damili R. Gea, S.H., M.Si., menegaskan bahwa tindakan membantu orang lain namun disertai dengan pamer demi mencari pujian, pada hakikatnya adalah perbuatan Riya yang tidak bernilai di hadapan Tuhan maupun masyarakat. Hal ini disampaikannya saat menjawab pertanyaan awak media, Rabu (6/5/2026).

Damili menilai bahwa ragam bentuk bantuan yang ditawarkan, mulai dari pembagian pulsa elektronik, uang tunai untuk beras, beasiswa pendidikan, hingga berbagai bantuan lainnya, sejatinya tidak memiliki akar solusi yang kuat untuk jangka panjang.

Terlebih lagi, langkah ini dinilai dilakukan oleh sosok yang selama ini digadang-gadang oleh kelompoknya sebagai bakal calon kepala daerah pada periode 2029 mendatang.

“Langkah ini sama sekali tidak relevan dengan kebutuhan hakiki masyarakat kita yang sesungguhnya mendambakan pemberdayaan, bukan sekadar pemberian sesaat yang sifatnya konsumtif,” ujarnya.

BANTUAN SEBAGAI ALAT PENINGGIAN DIRI

Lebih jauh Damili menegaskan bahwa pola bantuan tersebut hanyalah strategi pencitraan yang disusun secara rapi dan terencana. Tujuan utamanya bukanlah untuk mengangkat derajat kehidupan masyarakat, melainkan semata-mata untuk mengumpulkan pujian publik sebanyak-banyaknya. Hal ini terbukti dari perilaku pendampingan yang selalu dilakukan.

“Jika kita melihat dengan jernih dan objektif, pola ini memiliki motif tersembunyi yang sangat jelas. Bukan untuk memajukan dan memberdayakan, melainkan untuk meninggikan citra diri pemberi bantuan. Kenapa saya katakan demikian? Karena tidak ada satu pun bantuan yang luput dari sorotan kamera. Semuanya selalu diiringi publikasi masif di media sosial,” tegas Damili.

“Mulai dari nama penerima, foto momen penyerahan, hingga rincian nilai bantuan berdasarkan bukti transfer, dijabarkan sedemikian rupa. Seolah-olah nilai kebaikan itu tidak sahih dan tidak bernilai jika tidak dilihat serta dipuji oleh publik luas,” tambahnya.

Ia menilai bahwa cara penyampaian demikian justru menyimpan dampak negatif yang sangat dalam. Secara tidak langsung, tindakan tersebut seolah-olah ingin mempermalukan pihak yang dibantu di hadapan khalayak ramai.

“Membantu sesama adalah nilai luhur kemanusiaan yang seharusnya dilakukan dengan rasa hormat tinggi dan menjaga kehormatan orang lain. Namun dalam praktik ini, bantuan dijadikan alat pamer kekuatan dan kemurahan hati semu. Memajang mereka yang dibantu di media sosial sama artinya merendahkan harga diri mereka di mata orang lain. Ini bukanlah bentuk bantuan yang mulia, melainkan eksploitasi nasib orang lain demi kepentingan pencitraan diri semata,” tegasnya.

 

BAHAYA MELUMPUHKAN MENTALITAS KEMANDIRIAN

Selain soal etika, Damili juga mengkritisi dampak jangka panjang yang jauh lebih berbahaya. Menurutnya, sikap dan tindakan yang dilakukan tersebut sama sekali tidak mencerminkan sosok kepemimpinan maupun keteladanan yang pantas diikuti oleh masyarakat luas.

“Ada bahaya besar yang mengintai di balik pola bantuan seperti ini: ia justru memanjakan pola pikir masyarakat kita. Secara perlahan namun pasti, narasi yang dibangun menyampaikan pesan keliru bahwa masyarakat tidak perlu bekerja keras, tidak perlu berusaha, dan tidak perlu membangun kemandirian. Narasi itu seolah berkata: ‘biarkan saja bergantung, karena akan selalu ada yang membantu dan memberi’,” ujarnya.

“Ini adalah pandangan yang sangat berbahaya karena secara sistematis melumpuhkan mentalitas kemandirian Ono Niha yang selama ini kita junjung tinggi sebagai identitas luhur kita,” tambahnya dengan tegas.

Damili kembali menyoroti bahwa sosok yang mengaku sebagai pengamat ekonomi dan sosial seharusnya memiliki visi untuk mendorong masyarakat bangkit, berinovasi, dan memanfaatkan potensi besar yang dimiliki tanah kelahiran. Bukan sebaliknya, menjadikan masyarakat terus bergantung pada bantuan sesaat yang tidak berkelanjutan.

PERBEDAAN SOLUSI DAN PENCITRAAN

“Pada akhirnya, ada perbedaan sangat mendasar antara memberi solusi dan memberi bantuan sesaat. Solusi sejati mengajarkan cara memancing ikan agar seseorang bisa makan seumur hidup, sementara bantuan semu hanya membagi ikan mentah yang habis dalam sekali makan,” ungkapnya.

“Dan satu hal yang tak terbantahkan dalam nilai kemanusiaan: Kebaikan sejati tidak memerlukan sorotan kamera maupun tepuk tangan publik untuk dibuktikan. Ia tumbuh diam-diam di hati nurani, mekar dalam perbuatan nyata, dan meninggalkan manfaat abadi tanpa perlu berteriak. Itulah perbedaan mendasar antara kebaikan yang ikhlas dengan pencitraan yang kosong makna,” ujarnya mengakhiri pernyataan.

MENJAGA NILAI LUHUR TANO NIHA

Untuk itu, sudah saatnya kita sebagai bagian dari Ono Niha mulai memilah dan memilih. Kita tidak butuh belas kasihan yang dipajang, melainkan dukungan yang membangkitkan. Kita tidak membutuhkan pahlawan media sosial yang gemar membagi bantuan untuk difoto dan direkam, melainkan butuh pemikir sejati yang mampu membuka jalan kemandirian.

Tano Niha tidak akan maju dengan mentalitas menanti bantuan, melainkan dengan semangat menciptakan kemandirian. Dan sejarah hanya akan mencatat perbuatan nyata yang bermanfaat, bukan sorak-sorai pencitraan yang pada akhirnya hanyalah buih di permukaan. (N.Lase)

 

Sumber : Tokoh Masyarakat Kota Gunungsitoli, Damili R. Gea, S.H.,M.Si

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x