Teror Gajah di Pintu Rime Gayo, Rumah Warga Rusak dan Kebun Porak-Poranda

Redaksi
14 Mei 2026 18:46
News 0 8
4 menit membaca

Bener Meriah, Matakeadilan.id //

Kehadiran kawanan gajah liar kembali memantik kegelisahan sosial di wilayah pedalaman Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Dalam sepekan terakhir, kawasan permukiman warga di Kampung Pancar Jelobok, Kecamatan Pintu Rime Gayo, berada dalam tekanan setelah empat ekor gajah liar berkeliaran di sekitar Dusun Musara Ate dan Dusun Sentosa Indah.

Ancaman terhadap keselamatan warga kian mengemuka menyusul kerusakan rumah penduduk serta hancurnya tanaman perkebunan masyarakat yang menjadi sumber penghidupan utama.

Situasi mencekam dilaporkan berlangsung hampir setiap malam. Aktivitas masyarakat mengalami gangguan serius. Mobilitas warga menuju kebun menurun drastis akibat kekhawatiran terhadap potensi serangan satwa berbadan besar tersebut. Ketegangan sosial pun terus meluas seiring belum adanya penanganan cepat di lapangan.

Kawasan permukiman yang sebelumnya tenang berubah menjadi wilayah rawan konflik satwa liar. Jejak kerusakan terlihat di sejumlah titik kebun milik warga. Tanaman pertanian dilaporkan rata dengan tanah setelah dilintasi kawanan gajah yang masuk hingga mendekati rumah penduduk.

Kondisi tersebut memperlihatkan semakin menyempitnya ruang jelajah satwa liar sekaligus lemahnya mitigasi konflik antara manusia dan gajah di kawasan penyangga hutan.

Dua rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan cukup serius akibat amukan kawanan gajah pada malam hari. Rumah milik Pak Karo serta kediaman Ansari menjadi sasaran terjangan satwa dilindungi tersebut.

Dinding rumah mengalami kerusakan, sementara bagian sekitar pekarangan tampak porak-poranda. Peristiwa itu mempertegas tingginya eskalasi ancaman yang kini dihadapi masyarakat setempat.

Rasiandi selaku Kepala Dusun Musara Ate mengungkapkan keberadaan kawanan gajah liar tersebut telah menimbulkan trauma berkepanjangan di tengah masyarakat.

Menurut keterangannya, kawanan gajah diperkirakan berjumlah empat ekor dan hingga kini masih berada di sekitar area permukiman warga.

Ketakutan warga disebut semakin meningkat terutama ketika malam tiba. Suasana kampung berubah sunyi lebih cepat dibanding biasanya. Sebagian warga memilih membatasi aktivitas luar rumah karena khawatir terjadi serangan mendadak. Ancaman terhadap keselamatan jiwa menjadi perhatian utama setelah kerusakan rumah penduduk mulai terjadi.

Keberadaan kawanan gajah tersebut juga telah dilaporkan kepada pemerintah kampung untuk diteruskan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Penanganan cepat dinilai mendesak mengingat jarak antara kawanan gajah dan rumah penduduk semakin dekat. Potensi korban jiwa dikhawatirkan meningkat apabila langkah penghalauan tidak segera dilakukan.

Benturan antara kepentingan konservasi dan keselamatan masyarakat kembali menjadi potret buram yang berulang di wilayah pedalaman Aceh. Konflik satwa liar tidak lagi sekadar persoalan ekologis, melainkan telah memasuki ranah sosial dan ekonomi masyarakat desa.

Kerusakan kebun bukan hanya menghadirkan kerugian materiil, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup warga yang menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil pertanian.

Pemerintah kampung disebut telah menyampaikan laporan kepada Conservation Response Unit (CRU) guna meminta penanganan lapangan. Namun, keterbatasan personel serta masih berlangsungnya proses penggiringan gajah di wilayah lain menyebabkan penanganan di Kampung Pancar Jelobok belum dapat dilakukan secara langsung.

Bedel Kampung Pancar Jelobok menjelaskan laporan mengenai keberadaan kawanan gajah liar telah diteruskan kepada pihak CRU. Pada saat bersamaan, petugas disebut masih melakukan penggiringan kawanan gajah di Desa Negeri Antara dan kawasan Kampung Blang Rakal.

Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat harus menunggu kedatangan tim penanganan satwa liar sambil terus berada dalam bayang-bayang ancaman. Situasi ini memperlihatkan keterbatasan sistem respons cepat terhadap konflik manusia dan satwa liar di sejumlah wilayah pedalaman Aceh yang kerap berhadapan dengan lintasan gajah Sumatera.

Fenomena masuknya gajah ke area permukiman warga bukan kali pertama terjadi di Kecamatan Pintu Rime Gayo. Dalam beberapa tahun terakhir, konflik serupa berulang dengan pola yang hampir sama, yakni perusakan kebun, penghancuran rumah warga, hingga terganggunya aktivitas masyarakat desa.

Jalur jelajah gajah yang bersinggungan dengan kawasan pertanian serta permukiman menjadi faktor dominan yang terus memicu konflik terbuka.

Di tengah meningkatnya tekanan ekologis, masyarakat desa kini berada pada posisi paling rentan.

Ancaman kehilangan hasil kebun, kerusakan rumah, hingga potensi korban jiwa membentuk situasi darurat yang memerlukan langkah mitigasi lebih terstruktur. Penanganan yang bersifat sementara dinilai belum mampu menjawab akar persoalan konflik satwa liar yang terus berulang setiap tahun.

Ketidakpastian penanganan juga memunculkan keresahan kolektif di tengah warga. Sebagian masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas sistem pengawasan kawasan lintasan gajah serta kesiapan mitigasi pemerintah dalam menghadapi konflik satwa liar yang semakin intens terjadi di wilayah pedalaman.

Hingga kini, kawanan gajah liar tersebut dilaporkan masih berada di sekitar kawasan Dusun Musara Ate dan Dusun Sentosa Indah.

Warga terus berharap proses penggiringan segera dilakukan agar situasi kampung dapat kembali normal dan aktivitas masyarakat tidak lagi berada di bawah ancaman kawanan satwa liar yang sewaktu-waktu dapat memasuki halaman rumah penduduk. (Juansyah)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x