Damili Gea : Indah di Kata, Jauh dari Fakta : Gagasan yang Melampaui Retorika

Redaksi
5 Mei 2026 12:54
InfoNias 0 66
4 menit membaca

Gunungsitoli, Matakeadilan.id //

Menanggapi serangkaian pernyataan yang disampaikan oleh DR.(HC). Yusman Dawolo, M.Kom.I yang mengklaim dirinya sebagai Pengamat Ekonomi, Damili R. Gea, S.H., M.Si selaku Koordinator Tim Kampanye Pemenangan SMART menyampaikan tanggapan tegas dan lugas secara khusus kepada Matakeadilan.id, Selasa (5/5/2026).

Dalam pandangannya, Damili menegaskan bahwa gagasan-gagasan besar yang dikemukakan oleh YD tersebut sejatinya hanyalah rangkaian kata-kata indah di atas kertas atau sekadar retorika belaka. Hal ini dinilai demikian karena seluruh analisis yang dibangun tidak didasari oleh pemahaman mendalam mengenai kondisi riil di lapangan serta tantangan nyata yang sesungguhnya sedang dihadapi oleh Kota Gunungsitoli pada masa kini.

PENGAMATAN TANPA KEHADIRAN ADALAH TEORI KOSONG

Damili mempertanyakan validitas analisis yang disampaikan, mengingat fakta bahwa YD saat ini berada jauh di luar wilayah Kota Gunungsitoli. Jarak fisik ini, menurutnya, secara otomatis membatasi wawasan atas dinamika yang terjadi di tanah kelahiran.

“Kita sangat menghargai niat baik yang disampaikan. Namun ada pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dengan jujur. Bagaimana mungkin seseorang yang berada di luar daerah dapat sepenuhnya memahami denyut nadi ekonomi, keterbatasan geografis, tantangan fiskal, hingga dinamika sosial masyarakat Gunungsitoli secara utuh? Bagaimana bisa merumuskan solusi yang tepat jika tidak pernah merasakan langsung panas dan teriknya perjuangan membangun daerah ini setiap hari?” tegas Damili.

Ia menegaskan bahwa pengamatan ekonomi tidaklah cukup hanya bersumber dari data tertulis atau informasi sekilas di media. Pemahaman yang sejati lahir dari interaksi langsung dengan kondisi alam, karakter infrastruktur, dan kemampuan riil masyarakat yang memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak akan pernah tertuang sempurna dalam lembaran data statistik semata.

KONDISI GUNUNGSITOLI : ANTARA POTENSI DAN KETERBATASAN

Lebih jauh Damili menjelaskan bahwa saat ini, Kota Gunungsitoli sedang berjalan di tengah dua kutub realitas yang saling melengkapi. Di satu sisi, daerah ini sangat kaya akan potensi di sektor pertanian, perikanan, hingga kekayaan budaya yang luar biasa.

Namun di sisi lain, Gunungsitoli juga menghadapi tantangan berat yang menjadi realitas tak terelakkan, infrastruktur yang masih dalam tahap pembenahan bertahap, tingginya biaya logistik akibat kondisi geografis kepulauan dan perbukitan, serta ketergantungan pada transfer dana pusat yang kini mengalami penyesuaian signifikan pasca kebijakan fiskal nasional.

“Kondisi inilah yang tidak terlihat oleh mata pengamat dari kejauhan. Mengatakan ‘buat program 1000 UMKM naik kelas’ terdengar sangat mudah dan megah diucapkan. Namun di lapangan, kita harus berhadapan dengan akses yang sulit, keterbatasan di sentra produksi, hingga rendahnya literasi pasar di kalangan pelaku usaha. Semua ini adalah fakta berat yang harus kita perhitungkan dengan cermat dan teliti,” ujarnya.

MELAMPAUI RETORIKA : GAGASAN TANPA PEMIJAKAN KONTEKS

Terkait berbagai usulan strategi yang dipaparkan, Damili Gea menilai bahwa gagasan tersebut telah melampaui batas kewajaran, atau dalam artian sebenarnya: gagasan tanpa landasan pijakan yang kuat pada realitas lokal.

“Apa yang disampaikan adalah gagasan indah, teori sempurna yang terdengar sangat meyakinkan di telinga. Namun, ia melampaui batas realitas yang ada di hadapan kita. Inilah yang saya sebut sebagai ‘Melampaui Retorika’, yaitu pandangan yang melebih-lebihkan teori di atas kertas, namun kosong dari pemahaman tentang kapasitas anggaran yang terbatas dan tantangan teknis berat yang sedang dihadapi oleh Pemerintah Kota Gunungsitoli. Menyarankan solusi itu mudah bagi pengamat, tetapi merancang dan melaksanakannya di medan yang sulit adalah seni kepemimpinan yang sesungguhnya,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa usulan besar seperti penciptaan lapangan kerja masif dan hilirisasi produk sebenarnya sudah menjadi agenda utama pemerintah daerah. Bedanya, pemerintah bekerja dengan hitungan matang soal risiko, regulasi, dan kemampuan anggaran yang jelas, aspek-aspek krusial yang sering luput dari pandangan pengamat yang hanya melihat dari kejauhan.

PEMERINTAH TELAH MILIKI PETA JALAN YANG MATANG

Damili kembali menegaskan bahwa Pemerintah Kota Gunungsitoli tidak bekerja secara serampangan atau hanya berlandaskan teori semata. Seluruh strategi pembangunan telah dirancang dalam sebuah ekosistem penciptaan kerja yang terukur, sistematis, dan disesuaikan dengan kemampuan riil daerah.

“Berbicara itu adalah hal yang paling mudah, merancang jauh lebih sulit, dan melaksanakannya adalah tantangan terberat dari semuanya. Pemerintah tidak hanya menyusun rangkaian kata-kata indah, tetapi menyusun tindakan nyata yang berdampak. Jika analisis disusun tanpa kehadiran langsung dan pemahaman mendalam, maka itu hanyalah retorika: indah didengar, namun berat bahkan mustahil untuk diterapkan. Mari kita sadari, bahwa membangun Kota Gunungsitoli tidak cukup hanya dengan gagasan cemerlang dari kejauhan, melainkan butuh keringat, kesabaran, dan kerja nyata yang tumbuh dari pemahaman mendalam akan tanah yang sedang kita pijak bersama,” ungkap Damili dengan tegas.

Sebagai penutup, ia menyimpulkan dengan kalimat yang sangat bermakna,

“Gagasan tanpa pemahaman hanyalah bunyi kosong, dan niat baik tanpa tindakan hanyalah angan-angan belaka. Pemerintah Kota Gunungsitoli telah memilih jalan yang berat namun pasti: mendesain sistem dan mewujudkan solusi yang menyentuh akar masalah. Kita tidak sedang sekadar berbicara tentang masa depan, Kita sedang membangunnya — langkah demi langkah, hari demi hari, untuk Gunungsitoli Hebat”. (N.Lase)

 

Sumber : Koordinator Tim Kampanye Pemenangan SMART, Damili R. Gea, S.H., M.Si

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x